Banyak versi dari kisah syekh Siti Jenar. Semakin lama munculah perdebatan benar atau tidaknya vonis sesat pada ajaran Syekh Siti Jenar. .!?!? atau benar tidaknya Syekh Siti Jenar divonis hukuman mati oleh para Walisongo. .!?!?
berbagai sudut pandang antara salah dan benar telah saya baca. Dan menurut saya, inilah kisah Syekh Siti Jenar yang mungkhn bisa diterima semua kalangan tanpa menydutkan satu pihak ataupun merugikan pihak tertentu.
Merajut sebuah ilmu dan menjadikannya sehelai kain yang didalamnya
penuh akan keindahan corak dan warna, inilah yang diidamkan seluruh
ahli sufi. Rajutan demi rajutan tentang segala pemahaman ilmu,
penghayatan dan keluasan tentang segala kebesaran Alloh, perjalanan dan
pengorbanan yang selalu dilakoninnya sedari kecil, membuat segala macam
ilmu yang ada padanya, menjadikannya derajat seorang waliyulloh kamil.
Dalam
pandangan para waliyulloh, dimana badan telah tersirat asma’ Alloh dan
segala tetesan darahnya telah mengalir kalimat tauhid, dimana setiap
detak jantung selalu menyerukan keagunganNya dan setiap pandangan
matanya mengandung makna tafakkur, tiada lain orang itu adalah seorang
waliyulloh agung yang mana jasad dan ruhaniyahnya telah menyatu dengan
dzat Alloh. Inilah sanjungan yang dilontarkan oleh seluruh bangsa wali
kala itu pada sosok, kanjeng Syeikh Siti Jenar.Rohmat yang tersiram
didalam tubuhnya, ilmu yang tersirat disetiap desiran nafasnya,
pengetahuan tentang segala makna ketauhidan yang bersemayam didalam
akal dan hatinya, membuat kanjeng Syeikh Siti Jenar menjadi seorang
guru para wali.
Lewat kezuhudan yang beliau miliki serta
keluasan ilmu yang dia terapkan, membuat segala pengetahuannya selalu
dijadikan contoh. Beliau benar benar seorang guru agung dalam
mengembangkan sebuah dhaukiyah kewaliyan/tentang segala pemahaman ilmu
kewaliyan. Tak heran bila kala itu banyak bermunculan para waliyulloh
lewat ajaran ilafi yang dimilikinya.
Diantara beberapa nama
santri beliau yang hingga akhir hayatnya telah sampai kepuncak derajat
waliyulloh kamil, salah satunya, sunan Kali Jaga, raden Fatah, kibuyut
Trusmi, kigede Plumbon, kigede Arjawinangun, pangeran Arya Kemuning,
kiageng Demak Purwa Sari, ratu Ilir Pangabean, gusti agung Arya
diningrat Caruban, Pangeran Paksi Antas Angin, sunan Muria, tubagus
sulthan Hasanuddin, kiAgeng Bimantoro Jati, kiSubang Arya palantungan
dan kigede Tegal gubug.
Seiring perjalanannya sebagai guru para
wali, syeikh Siti Jenar mulai menyudahi segala aktifitas mengajarnya
tatkala, Syarief Hidayatulloh/ sunan Gunung Jati, telah tiba dikota
Cirebon. Bahkan dalam hal ini bukan hanya beliau yang menyudahi
aktifitas mengajar pada saat itu, dedengkot wali Jawa, sunan Ampel dan
sunan Giri juga mengakhirinya pula.
Mereka semua ta’dzim
watahriman/ menghormati derajat yang lebih diagungkan, atas datangnya
seorang Quthbul muthlak/ raja wali sedunia pada zaman tersebut, yaitu
dengan adanya Syarief Hidayatulloh, yang sudah menetap dibumi tanah
Jawa.
Sejak saat itu pula semua wali sejawa dwipa, mulai
berbondong ngalaf ilmu datang kekota Cirebon, mereka jauh jauh sudah
sangat mendambakan kedatangan, Syarief Hidayatulloh, yang ditunjuk
langsung oleh, rosululloh SAW, menjadi sulthan semua mahluk ( Quthbul
muthlak )
Nah, sebelum di kupas tuntas tentang jati diri, syeikh
Siti Jenar, tentunya kita agak merasa bingung tentang jati diri,
Syarief Hidayatulloh, yang barusan dibedarkan tadi. "Mengapa Syarief
Hidayatulloh kala itu sangat disanjung oleh seluruh bangsa wali ?".
Dalam
tarap kewaliyan, semua para waliyulloh, tanpa terkecuali mereka semua
sudah sangat memahami akan segala tingkatan yang ada pada dirinya. Dan
dalam tingkatan ini tidak satupun dari mereka yang tidak tahu, akan
segala derajat yang dimiliki oleh wali lainnya. Semua ini karena Alloh
SWT, jauh jauh telah memberi hawatief pada setiap diri para waliyulloh,
tentang segala hal yang menyangkut derajat kewaliyan seseorang.
Nah,
sebagai pemahaman yang lebih jelas, dimana Alloh SWT, menunjuk
seseorang menjadikannya derajat waliyulloh, maka pada waktu yang
bersamaan, nabiyulloh, Hidir AS, yang diutus langsung oleh malaikat,
Jibril AS, akan mengabarkannya kepada seluruh para waliyulloh lainnya
tentang pengangkatan wali yang barusan ditunjuk tadi sekaligus dengan
derajat yang diembannya.
Disini akan dituliskan tingkatan
derajat kewaliyan seseorang, dimulai dari tingkat yang paling atas.
"Quthbul muthlak- Athman- Arba’ul ‘Amadu- Autad- Nukoba’ – Nujaba’ –
Abdal- dan seterusnya". Nah dari pembedaran ini wajar bila saat itu
seluruh wali Jawa berbondong datang ngalaf ilmu ketanah Cirebon, karena
tak lain didaerah tersebut telah bersemayam seorang derajat, Quthbul
muthlak, yang sangat dimulyakan akan derajat dan pemahaman ilmunya.
Kembali
kecerita syeikh Siti Jenar, sejak adanya, Syarief Hidayatulloh, yang
telah memegang penting dalam peranan kewaliyan, hampir seluruh wali
kala itu belajar arti ma’rifat kepadanya, diantara salah satunya
adalah, syeikh Siti Jenar sendiri.
Empat tahun para wali ikut
bersamanya dalam “Husnul ilmi Al kamil"/ menyempurnakan segala
pemahaman ilmu, dan setelah itu, Syarief Hidayulloh, menyarankan pada
seluruh para wali untuk kembali ketempat asalnya masing masing. Mereka
diwajibkan untuk membuka kembali pengajian secara umum sebagai syiar
islam secara menyeluruh.
Tentunya empat tahun bukan waktu yang
sedikit bagi para wali kala itu, mereka telah menemukan jati diri ilmu
yang sesungguhnya lewat keluasan yang diajarkan oleh seorang derajat,
Quthbul mutlak. Sehingga dengan kematangan yang mereka peroleh, tidak
semua dari mereka membuka kembali pesanggrahannya.
Banyak
diantara mereka yang setelah mendapat pelajaran dari, Syarief
Hidayatulloh, segala kecintaan ilmunya lebih diarahkan kesifat,
Hubbulloh/ hanya cinta dan ingat kepada Alloh semata. Hal seperti ini
terjadi dibeberapa pribadi para wali kala itu, diantaranya; syeikh Siti
Jenar, sunan Kali Jaga, sulthan Hasanuddin Banten, pangeran Panjunan,
pangeran Kejaksan dan Syeikh Magelung Sakti.
Mereka lebih
memilih hidup menyendiri dalam kecintaannya terhadap Dzat Alloh SWT,
sehingga dengan cara yang mereka lakukan menjadikan hatinya tertutup
untuk manusia lain. Keyakinannya yang telah mencapai roh mahfud,
membuat tingkah lahiriyah mereka tidak stabil. Mereka bagai orang gila
yang tidak pernah punya rasa malu terhadap orang lain yang melihatnya.
Seperti
halnya, syeikh Siti Jenar, beliau banyak menunjukkan sifat khoarik/
kesaktian ilmunya yang dipertontonkan didepan kalayak masyarakat umum.
Sedangkan sunan Kali Jaga sendiri setiap harinya selalu menaiki kuda
lumping, yang terbuat dari bahan anyaman bambu. Sulthan Hasanuddin,
lebih banyak mengeluarkan fatwa dan selalu menasehati pada binatang
yang dia temui.
Pangeran Panjunan dan pangeran Kejaksaan, kakak
beradik ini setiap harinya selalu membawa rebana yang terus dibunyikan
sambil tak henti hentinya menyanyikan berbagai lagu cinta untuk tuannya
Alloh SWT, dan syeikh Magelung Sakti, lebih dominan hari harinya selalu
dimanfaatkan untuk bermain dengan anak anak.
Lewat perjalanan
mereka para hubbulloh/ zadabiyah/ ingatannya hanya kepada, Alloh SWT,
semata. Tiga tahun kemudian mereka telah bisa mengendalikan sifat
kecintaannya dari sifat bangsa dzat Alloh, kembali kesifat asal, yaitu
syariat dhohir.
Namun diantara mereka yang kedapatan sifat dzat
Alloh ini hanya syeikh Siti Jenar, yang tidak mau meninggalkan
kecintaanya untuk tuannya semata ( Alloh ) Beliau lebih memilih
melestarikan kecintaannya yang tak bisa terbendung, sehingga dengan
tidak terkontrol fisik lahiriyahnya beliau banyak dimanfaatkan kalangan
umum yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu kewaliyan.
Sebagai
seorang waliyulloh yang sedang menapaki derajat fana’, segala ucapan
apapun yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar kala itu akan menjadi
nyata, dan semua ini selalu dimanfaatkan oleh orang orang culas yang
menginginkan ilmu kesaktiannya tanpa harus terlebih dahulu puasa dan
ritual yang memberatkan dirinya.
Dengan dasar ini, orang orang
yang memanfaatkan dirinya semakin bertambah banyak dan pada akhirnya
mereka membuat sebuah perkumpulan untuk melawan para waliyulloh. Dari
kisah ini pula, syeikh Siti Jenar, berkali kali dipanggil dalal sidang
kewalian untuk cepat cepat merubah sifatnya yang banyak dimanfaatkan
orang orang yang tidak bertanggung jawab, namun beliau tetap dalam
pendiriannya untuk selalu memegang sifat dzat Alloh.
Bahkan
dalam pandangan, syeikh Siti Jenar sendiri mengenai perihal orang orang
yang memenfaatkan dirinya, beliau mengungkapkannya dalam sidang
terhormat para waliyulloh; “Bagaiman diriku bisa marah maupun menolak
apa yang diinginkan oleh orang yang memanfaatkanku, mereka semua adalah
mahluk Alloh, yang mana setiap apa yang dikehendaki oleh mereka
terhadap diriku, semua adalah ketentuanNya juga" lanjutnya.
“Diriku
hanya sebagai pelantara belaka dan segala yang mengabulkan tak lain dan
tak bukan hanya dialah Alloh semata . Karena sesungguhnya adanya diriku
adanya dia dan tidak adanya diriku tidak adanya dia. Alloh adalah
diriku dan diriku adalah Alloh, dimana diriku memberi ketentuan disitu
pula Alloh akan mengabulkannya. Jadi janganlah salah paham akan ilmu
Alloh sesungguhnya, karena pada kesempatannya nanti semua akan kembali
lagi kepadaNya."
Dari pembedaran tadi sebenarnya semua para
waliyulloh, mengerti betul akan makna yang terkandung dari seorang yang
sedang jatuh cinta kepada tuhannya, dan semua waliyulloh yang ada dalam
persidangan kala itu tidak menyalahkan apa barusan yang diucapkan oleh,
syeikh Siti Jenar.
Hanya saja permasalahannya kala itu, seluruh
para wali sedang menapaki pemahaman ilmu bersifat syar’i sebagai bahan
dasar dari misi syiar islam untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat
luas yang memang belum mempunyai keyakinan yang sangat kuat dalam
memasuki pencerahan arti islam itu sendiri. Wal hasil, semua para wali
pada saat itu merasa takut akan pemahaman dari syeikh siti jenar, yang
sepantasnya pemahaman beliau ini hanya boleh didengar oleh oleh orang
yang sederajat dengannya, sebab bagaimanapun juga orang awam tidak akan
bisa mengejar segala pemahaman yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar.
Sedangkan
pada saat itu, syeikh Siti Jenar yang sedang kedatangan sifat
zadabiyah, beliau tidak bisa mengerem ucapannya yang bersifat
ketauhidan, sehingga dengan cara yang dilakukannya ini membawa dampak
kurang baik bagi masyarakt luas kala itu. Nah, untuk menanggulangi
sifat syeikh Siti Jenar ini seluruh para wali akhirnya memohon petunjuk
kepada Alloh SWT, tentang suatu penyelesaian atas dirinya, dan hampir
semua para wali ini mendapat hawatif yang sama, yaitu :
"Tiada
jalan yang lebih baik bagi orang yang darahnya telah menyatu dengan
tuhannya, kecuali dia harus cepat cepat dipertemukan dengan
kekasihnya". Dari hasil hawatif para waliyulloh, akhirnya syeikh Siti
Jenar dipertemukan dengan kekasihnya Alloh SWT.
Dan cara ini bagi syeikh Siti Jenar sendiri sangat diidamkannya. Karena
baginya, mati adalah kebahagiaan yang membawanya kesebuah kenikmatan
untuk selama lamnya dalam naungan jannatun na’im.
sumber : Idris Nawawi (mystys.wordpress.com)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar